Seruan Aksi Nasional bertema Tingkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat di Jakarta, 21-22 November 2005, diakhiri dengan penandatanganan Deklarasi Peningkatan Derajat Kesehatan Masyarakat. Para gubernur dan ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dari 33 provinsi di Indonesia menyepakati Tri Aksi dalam deklarasi itu.
Pertama, segera menindaklanjuti hasil pertemuan Seruan Aksi Nasional menjadi kegiatan nyata di daerah. Langkah awalnya menetapkan satu kabupaten atau kota di setiap provinsi sebagai percontohan.
Kedua, daerah akan mengembangkan program lintas sektor yang melibatkan dan mengikutsertakan institusi nonpemerintah dan masyarakat secara konkret, terjadwal, dan terukur yang berorientasi pada usaha peningkatan derajat kesehatan masyarakat dalam rangka mempercepat tercapainya pembangunan milenium bidang kesehatan.
Ketiga, daerah menyiapkan dukungan anggaran secara proporsional dan optimal dan meningkatkan program aksi.
Menko Kesra (saat itu) Alwi Shihab saat menutup acara Seruan Aksi Nasional, Selasa, seperti dilansir Kompas, mengingatkan para gubernur/walikota/bupati bertanggung jawab meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia yang masih jauh tertinggal. Tidak ada tekanan pada pemerintah daerah, tapi dengan deklarasi ini kami berharap pemerintah daerah segera mengalokasikan dana hingga 15 persen untuk kesehatan masyarakat di wilayahnya, kata Alwi Shihab. Daerah yang belum mencapai 15 persen diharapkan menambah alokasi dana untuk kesehatan.
Usai penutupan, Gubernur Sulawesi Selatan Amin Syam yang ditanya soal apa kegiatan yang akan dilaksanakan di daerahnya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, ia menjawab belum dirumuskan. Demikian juga anggaran untuk kesehatan. Pemikiran mengenai dokter keluarga juga mencuat dalam sesi diskusi. Pemikiran tersebut dikemukakan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Prof. Dr. Dr. Faried Anfasa Moeloek, Sp.OG.
Dokter Keluarga
Menurut Moeloek, idealnya di setiap wilayah di Indonesia ada dokter keluarga. Seorang dokter bertanggung jawab atas kesehatan sekitar 2.500 orang di satu wilayah, bisa kecamatan atau kabupaten. Misalnya dalam satu kecamatan ada 50.000 kepala, jadi diperlukan 20 orang dokter, kata Moeloek. Dokter keluarga dimungkinkan jika warga di satu wilayah tertentu membayar premi asuransi dengan subsidi silang. Warga yang kaya membayar premi lebih besar dibandingkan warga yang kurang mampu. Jadi pembiayaannya secara prabayar lewat sistem asuransi sosial. Jika sudah membayar premi, maka masyarakat sudah tidak dipungut biaya lagi. Kami baru akan menjalankan di Provinsi Sumatera Selatan sebagai percontohan. Tahun depan akan kami implementasikan, katanya.
Menurut Moeloek, idealnya di setiap wilayah di Indonesia ada dokter keluarga. Seorang dokter bertanggung jawab atas kesehatan sekitar 2.500 orang di satu wilayah, bisa kecamatan atau kabupaten. Misalnya dalam satu kecamatan ada 50.000 kepala, jadi diperlukan 20 orang dokter, kata Moeloek. Dokter keluarga dimungkinkan jika warga di satu wilayah tertentu membayar premi asuransi dengan subsidi silang. Warga yang kaya membayar premi lebih besar dibandingkan warga yang kurang mampu. Jadi pembiayaannya secara prabayar lewat sistem asuransi sosial. Jika sudah membayar premi, maka masyarakat sudah tidak dipungut biaya lagi. Kami baru akan menjalankan di Provinsi Sumatera Selatan sebagai percontohan. Tahun depan akan kami implementasikan, katanya.
Sementara itu, Pusat Kesehatan Masyarakat akan bergeser menjadi public goods yang mengatur sanitasi, air bersih atau lingkungan hidup. Sementara dokter keluarga merupakan private goods.
Malapraktik, Ketika Dokter Jadi Raja
Menyoal banyaknya pasien dari Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri, Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Dr. Adib A. Yahya, MARS menyatakan, pihak rumah sakit harus introspeksi terhadap kekurangannya. ?Kita harus mengembalikan budaya rumah sakit, yaitu melayani. Jadi dokter itu harus melayani pasiennya dengan baik, mendengarkan dan melakukan komunikasi, kata Adib. Pihak rumah sakit juga harus meningkatkan mutu pelayanan, seperti manajemen, corporate, dan manajemen kliniknya. Terlebih kini rumah sakit-rumah sakit asing gencar berpromosi dengan berbagai macam cara. Kenapa kita tidak? tutur Adib.
Menyoal banyaknya pasien dari Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri, Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Dr. Adib A. Yahya, MARS menyatakan, pihak rumah sakit harus introspeksi terhadap kekurangannya. ?Kita harus mengembalikan budaya rumah sakit, yaitu melayani. Jadi dokter itu harus melayani pasiennya dengan baik, mendengarkan dan melakukan komunikasi, kata Adib. Pihak rumah sakit juga harus meningkatkan mutu pelayanan, seperti manajemen, corporate, dan manajemen kliniknya. Terlebih kini rumah sakit-rumah sakit asing gencar berpromosi dengan berbagai macam cara. Kenapa kita tidak? tutur Adib.
Belakangan, begitu sering kasus-kasus malapraktik dilaporkan sejumlah pasien atau keluarga pasien. Kasus malapraktik biasanya muncul saat pihak pasien atau keluarga pasien tidak puas karena pihak dokter yang menanganinya dinilai bekerja tidak benar sehingga mengakibatkan cacat atau kematian pasien.
Kasus terakhir adalah ketidakpuasan keluarga Misbach Yusa Biran yang menengarai adanya ketidakberesan penanganan oleh tim dokter RS Medistra Jakarta terhadap putri bungsunya, Sukma Ayu. Sehingga bintang sinetron itu harus koma selama lima bulan lebih dan berakhir dengan kematian. Misbach pun berencana membawa persoalan tersebut ke jalur hukum. Pertanyaannya, mengapa kasus malapraktik begitu banyak terjadi di negeri ini?
Banyaknya kasus malapraktik di negara ini merupakan salah satu bentuk dari kurang demokratisnya dokter dalam melayani pasien. Tidak dapat disangkal bahwa di negara ini masih banyak rumah sakit yang menerapkan doctor-oriented. Padahal, seharusnya manajemen rumah sakit menetapkan patient-oriented.
Akibat manajemen rumah sakit yang kerap kali "menganakemaskan" para dokternya, dalam artian mengelola rumah sakit berdasarkan keinginan para dokter, telah menjadi bumerang bagi perkembangan rumah sakit di negara ini. Contoh kecil berkembangnya sikap doctor-oriented dapat dilihat dari perekrutan dokter oleh pihak pengelola rumah sakit. Dalam hal ini, pihak manajemen akan mempekerjakan dokter-dokter yang sudah terkenal dan mempunyai pasien tetap. Secara ekonomis, praktik seperti ini memang menguntungan. Pasien-pasien dokter yang direkrut tersebut akan berpindah ke rumah sakit di mana si dokter berpraktik, selain berpraktik secara pribadi. Padahal, hal seperti ini tidak boleh dilakukan karena dokter dengan kemampuannya yang terbatas, tidak mungkin bisa menangani begitu banyak pasien. Otak dan tubuh kita perlu istirahat setelah digunakan dalam jangka waktu tertentu. Tapi, hal ini sering diabaikan karena sejumlah dokter lebih mementingkan nilai material yang dapat diraihnya.
Dokter jangan hanya berpikiran bagaimana mendapatkan materi yang banyak. Tidak dapat disangkal, budaya hedonistik telah merambah begitu banyak kaum profesional, termasuk dokter di negara ini. Dokter juga kan harus kaya begitu komentar salah seorang dokter yang kerja di salah satu rumah sakit umum di kota ini. Ironis sekali, uang kini menjadi abdi pelayanan. Padahal, pekerjaan dokter erat kaitannya dengan nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, kasih kepada manusia seharusnya menjadi landasan utama dokter dalam mengerjakan tugas-tugasnya.
Medical Tourism
Kembali kepada berbagai kasus malapraktik yang terjadi di Indonesia. Akibat pelayanan dokter yang kurang baik, menyebabkan banyak warga Indonesia yang mampu pergi untuk beronat ke Singapura. Dipilihnya Negara Singa tersebut karena letak negara berpenduduk 4 juta itu dekat dengan Indonesia. Dan yang lebih penting lagi, karena pelayanan kesehatan di negara itu sudah teruji secara internasional.
Kembali kepada berbagai kasus malapraktik yang terjadi di Indonesia. Akibat pelayanan dokter yang kurang baik, menyebabkan banyak warga Indonesia yang mampu pergi untuk beronat ke Singapura. Dipilihnya Negara Singa tersebut karena letak negara berpenduduk 4 juta itu dekat dengan Indonesia. Dan yang lebih penting lagi, karena pelayanan kesehatan di negara itu sudah teruji secara internasional.
Bahkan saat ini, Singapura pun tengah gencar melancarkan program medical tourism dengan pangsa pasarnya para pasien dari seluruh dunia. Pada saat ini, sasaran pasien yang dituju adalah dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Pasien dari ketiga negara ini, berdasarkan data statistik yang ada di negara itu, merupakan kontributor pasien internasional yang cukup signifikan bagi Negara Singa tersebut.
Mengapa para pasien internasional datang ke Singapura? Ada sejumlah alasan yang bisa menjelaskan mengenai cukup banyaknya pasien asing di Singapura termasuk pasien yang berasal dari Indonesia.
Pertama, Singapura memiliki pusat-pusat kesehatan terbaik. Rumah sakit-rumah sakit dan pusat-pusat kesehatan khusus di Singapura menyediakan pusat gabungan berbagai bidang seperti kardiologi (jantung), opthalmology (mata), oncology (kanker), obstetrics dan gynaecology (kandungan), otolaryngology (telinga, hidung, tenggorokan), gastroenterology (sistem pencernaan dan hati) dan neurology (syaraf). Di tempat ini para pasien menerima perawatan kesehatan bermutu dan mutakhir yang diberikan oleh para profesional medis terkemuka.
Kedua, Singapura adalah pusat biomedis pertama di Asia. Dengan kemampuan riset bertaraf dunia di bidang genomics, biologi molekul, bioengineering dan nanoteknologi, bioinformatika serta pendirian biopolis untuk aktivitas riset biomedis. Singapura mengembangkan kemampuannya dari riset dasar hingga pengujian klinis dan pelayanan kesehatan. Hal ini memungkinkan para petugas medis profesional untuk melakukan perawatan dan terapi inovatif terkini.
Ketiga, Singapura adalah tempat penyegaran untuk para profesional medis. Berkaitan dengan ketersediaan infrastruktur pelayanan kesehatan kelas satu, kelompok ahli medis Singapura telah menarik perhatian sejumlah profesional medis internasional. Mereka datang ke Singapura untuk berlatih, belajar, berbagi, dan menjalin koneksi. Selain itu, sebagai kota konvensi paling terkemuka di Asia, Singapura telah berperan sebagai tuan rumah berbagai konferensi, simposium, seminar, dan training setiap tahun yang dihadiri oleh sejumlah profesional medis internasional.
Keempat, Singapura mempromosikan suatu lingkungan yang menetapkan dan menjalankan standar untuk melindungi kesehatan masyarakat secara efisien, bahkan terus melakukan inovasi dalam bidang teknologi medis. Health Science Authority (HAS) misalnya, lembaga ini membuat standar pengaturan evaluasi obat-obatan, administrasi farmasi, peralatan medis, obat-obatan transfusi dan sebagainya. Begitu pula dengan Sistem Informasi Manajemen yang terkomputerisasi baik untuk operasional sendiri, maupun untuk membantu pengambilan keputusan di tingkat pengelola rumah sakit. Dengan demikian, para pasien memiliki akses yang lebih cepat untuk memperoleh pelayanan dan produk-produk perawatan kesehatan yang terbaru.
Kelima, Singapura adalah kota yang aman. Hal ini tentunya memberikan ketenangan batin bagi para masyarakatnya. Tingkat kejahatan yang rendah dan lingkungan yang bersih menjadikan Singapura sebagai negara yang paling diminati dan tempat yang aman untuk dikunjungi, sehingga membuat pasien internasional merasa nyaman. Transportasi umum dan swasta yang efisien memudahkan pengunjung untuk melakukan perjalanan keliling kota. Selain itu, masyarakat Singapura yang multibudaya dan multirasial akan membuat para pasien internasional mudah beradaptasi baik terhadap lingkungan maupun hal-hal lainnya, seperti masalah makanan halal.
Karena itu, jika Indonesia tidak mau para pasiennya kabur ke luar negeri, maka sudah seharusnya pihak rumah sakit memperbaiki manajemennya secara radikal. Apa yang terjadi di Singapura sebenarnya bisa pula terjadi di negara ini. Kita kaya dengan sumber daya. Sayangnya, kemampuan bangsa ini baru sampai tingkat retorika belum kepada implementasinya.
Bagaimanapun, untuk menampilkan kehebatan bangsa ini, dibutuhkan kerja keras yang serius dan tekun dari semua pihak. Semoga dalam jangka waktu yang tidak lama Indonesia pun bisa menjadi medical hub. Tidak ada yang mustahil kan selama masih ada niat dan kerja keras untuk mencapainya. Kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi ?

0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan tambahkan komentar anda :))